|
Surabaya, JP.-
Kian merosotnya penjualan mobil baru, menyusul krisis moneter dan
terbatasnya pasokan mobil, berdampak negatif pada penjualan aksesori
mobil. Sebaliknya, keadaan ini justru membuat bisnis salon mobil
berkibar.
Salah satu toko variasi mobil yang terpukul adalah Duta Ban Variasi.
Penjualan ban dan peleknya terus turun hingga 50 persen, sejak adanya
krisis yang mendera pertengahan 1997 lalu. Kalau dulu bisa menjual
hingga 40 ban per bulan, kini setengahnya.
"Penurunan itu juga disebabkan makin meluasnya pemilik mobil bekas.
Pemilik mobil bekas ini tak seperti pemilik mobil baru. Mereka ini
seperlunya saja merawat mobil," ujar Shinta Liono, pimpinan Duta
Ban.
Dia mengakui, saat ini harga ban dan pelek sejak awal krisis lalu
naik secara bertahap hingga 200 persen, khususnya ban impor asal
Italia, Jepang dan Prancis. "Kenaikan ini juga mempengaruhi menurunnya
pembelian ban,"katanya.
Namun, penurunan bisnis aksesori mobil ini bisa ditutupi dengan
bisnis Duta Ban yang lain : Duta Business Card (DBC). Menurut Harun
Imam Santoso, general manager DBC, jumlah anggotanya kini naik 25
persen dibanding 1997. "Kenaikan member itu karena fasilitas DBC
lebih lengkap, dengan 10 kegunaan,"katanya.
Yang menarik, bisnis salon mobil justru berkibar. "Masyarakat justru
sangat intensif merawat mobil bekasnya. Dengan harapan jika dirawat
bagus dapat dijual kembali dengan harga yang lebih mahal,"kata Andi
Tenggara, direktur Sentra (Autoglym), salon perawatan mobil resmi
dari Inggris.
Kata dia, hari-hari ini salonnya ramai, yakni bisa merawat 6 hingga
10 unit mobil. Padahal dulu hanya 5 hingga 7 unit. "Saya juga heran
kondisi seperti ini kok justru laku keras,"akunya. (rin)
|