|
Orang Indonesia konon sangat pesolek, termasuk untuk mobil tumpangannya.
Orang awak bukan cuma suka menambahkan aneka aksesoris agar mobil
tampil beda, tapi juga rajin ke salon untuk menjaga penampilan yang
elok. Bagi pebisnis, tentu saja kecenderungan ini jadi peluang bisnis
yang cantik. Tim Otomotif Teras Bisnis Surabaya Post, Agoes Hari
Noeswantoro, Luddy Eko Pramono dan Agus Ismail, menelusuri bisnis
itu.
Berkilaunya bisnis salon mobil di Surabaya agaknya bisa dibaca
dari masuknya pemain baru di bisnis mempercantik mobil ini. Dalam
tiga bulan terakhir ini saja tercatat tak kurang dari delapan pemain
baru yang ikut meramaikan usaha jasa ini. Kedelapan pendatang baru
tersebut adalah Sentra, Plus, Auto Salon, Deteil 8, Iwan, Brawijaya,
Karah Agung dan K&N auto salon.
Hingga pertengahan tahun, jumlah salon mobil yang telah beroperasi
di Surabaya baru 12 buah. Kini angka itu telah menjadi 20. Yang
menarik, lebih dari 50% salon mobil itu memilih kawasan Surabaya
Timur sebagai ladang garapannya.
Iwan Thamrin, pemilik Auto Salon, mengatakan, kawasan Surabaya
Timur saat ini memang sangat cocok untuk pengembangan bisnis ini.
Antara lain didukung oleh telah mapannya kawasan ini sebagai sentra
perdagangan dan jasa di bidang otomotif. Contohnya kawasan Kertajaya,
Manyar, Dharmawangsa, dan Ngagel yang dipenuhi pedagang mobil dan
berbagai aksesoris pendukungnya.
Selain itu, kata Iwan, kawasan ini telah berkembang menjadi salah
satu kawasan pemukiman kalangan menengah atas yang rata - rata penghuninya
memiliki mobil pribadi. "Inilah pasar potensial yang kami garap",
kata Iwan.
Pesolek
Memang berbagai potensi yang dimiliki kawasan inilah yang menarik
sejumlah pebisnis untuk ikut berebut manisnya kue salon mobil di
Surabaya Timur. Dari 20 pemain yang ada, tercatat 11 salon mobil
berada di kawasan ini. Sedangkan sisanya tersebar di Surabaya Barat
dan Selatan.
Keberadaan bisnis mempercantik mobil di Surabaya di awali oleh
Oto Salon yang membuka usahanya di Undaan Wetan 12-A -- sekarang
di tempati GBT -- sekitar tahun 1992.
"Waktu itu saya melihat semakin banyak mobil mewah lalu lalang
di jalan. Apalagi ada kecenderungan pemilik mobil di Surabaya pesolek",
kata Moddy Putranto Wibisono, pemilik Oto Salon.
Tren ini berkaitan erat dengan masih melekatnya image mobil sebagai
barang investasi, yang sewaktu - waktu dapat dijual kembali dengan
harga yang tidak terpaut jauh dengan harga beli.
"Kalau mobil kelihatan kusam dan tak terawat, otomatis harga jualnya
jatuh. Sedangkan kalau mobil terawat, baik mesin maupun bodinya,
maka resales value-nya tetap tinggi", jelas L. Sutolip Djaja, Kepala
Cabang Mobil '88.
Pendapat ini dibenarkan Andi Tanggara, Direktur Gajah Mas Motor
(GMM) yang menyatakan, salah satu faktor penilaian mobil bekas berawal
dari tampilan luarnya.
"Beli mobil bekas yang pertama harus dicek bodinya, baru mesinnya",
kata Andi. Karena itu wajar jika barang dagangan showroom biasanya
disalonkan dulu sebelum ditawarkan ke pembeli.
Punya Prospek
Beberapa pengusaha salon mobil yang ditemui sepakat mengatakan bisnis
ini punya prospek baik. Mereka mengatakan rata - rata setiap hari
tak kurang dari 4 (empat) unit mobil memanfaatkan jasa mereka.
Jika tarif perawatan total (interior dan eksterior) dipatok antara
Rp 250 ribu sampai Rp 350 ribu atau rata - rata Rp 300 ribu/mobil,
berarti setiap salon mobil, setidaknya bisa mengantongi omset Rp
1,2 juta sehari.
Ini berarti tiap salon melayani sekitar 120 mobil per bulan. Atau
2400 unit mobil per bulan untuk 20 salon mobil di Surabaya. Padahal
ada beberapa salon mobil yang mengklaim mampu melayani lebih dari
jumlah itu per harinya.
Dari angka itu bisa dilihat pangsa pasar salon mobil masih terlalu
kecil dibanding potensi mobil yang bersliweran di jalanan kota Pahlawan.
Satrija Surya, Kepala Cabang Tunas BMW menunjuk contoh jumlah BMW
yang ada di Jawa Timur mencapai 4000 unit, 75%-nya (3000 unit) berada
di ibukota Jatim ini.
Ini baru BMW saja. Padahal ada 5 merk lain yang bermain di kelompok
mobil mewah dan beberapa merk lainnya bermain di kelas menengah.
Menariknya, saat ini pasar salon mobil tidak terbatas pada sedan,
tetapi kendaraan niaga sekelas Kijang dan Panther pun masuk salon.
Disodori angka itu, Rudy Chandra -- pemilik K&N auto salon -- optimistis
bisa survive di bisnis ini. Bahkan ia menilai peluang masuknya pemain
- pemain baru masih cukup terbuka seiring dengan makin berkembangnya
jumlah mobil dan meningkatnya tingkat ekonomi masyarakat.
Melihat itu, ia berani mematok target 3-5 mobil/hari masuk salon
yang berlokasi di Jl. Mayjen Sungkono 180. "Sebagai pendatang baru,
target 3-5 unit mobil/hari kami anggap masih wajar. Apalagi jumlah
mobil yang belum tertangani sangat banyak", ulasnya.
Munculnya pemain - pemain baru ini ditanggapi secara positif oleh
salon mobil yang lebih dulu ada. Johannes Krisnajana, pemilik XL
auto salon mengatakan, dengan munculnya banyak salon mobil baru
di Surabaya malahan akan mempercepat terbentuknya saloon minded.
|